“Aku Bangga Jadi Anak Indonesia”
24 July 2008 at 11:55 am | Posted in Suddenly Think | 23 CommentsTags: 17 Agustus, Hari Anak Nasional, Indonesia, kemerdekaan, proklamasi
Menurut kalender di rumah gw, hari ini tanggal 24 Juli. Seperti yang kita tau, 23 JuIi kemaren adalah Hari Anak Nasional. Walaupun jujur aja, gw ga akan tau 23 Juli tuh hari apaan kalo ga nonton TV. He he he….
Yah, beberapa stasiun televisi swasta udah semenjak beberapa hari yang lalu mengampanyekan Hari Anak Nasional. Di salah satu iklannya, ada sekumpulan anak-anak yang bilang, “Aku bangga jadi anak Indonesia.” Yang lagi pengen gw ocehin hari ini bukan soal Hari Anak Nasional-nya, tapi soal kebangaan jadi anak Indonesia itu buat gw.
Beberapa hari yang lalu, waktu gw sama temen-temen lagi “dugem” alias “duduk-duduk gembira” di teras Sabilal Muhtadin, tiba-tiba temen gw nyeletuk di tengah materi. Beginilah kira-kira percakapan waktu itu, dengan beberapa perubahan (ga mungkin kan gw inget sedetail-detailnya ^^):
Ipeh : “Eh, ngomong-ngomong soal sejarah, tau soal cerita di balik 17 Agustus?”
Dian : “Maksudnya?”
Ipeh : “Iya, kemaren kan waktu ke Balikpapan buat pendaftaran STAN sempet ngobrol-ngobrol sama cowok-cowoknya. Biasa lah, ngomong ngalor ngidul ganti-ganti topik buat ngilangin bosen. Eh, tiba-tiba si Bayu bilang, kalo 17 Agustus tuh bukan sembarang tanggal.”
Yuli : “Ada di Al-Qur’an, katanya.”
Gw : “Ada di Al-Qur’an? Yang bener?”
Vicka : “Haah?! Masa? Dimananya? Dimananya?
Ipeh : “Duuh, apa ya. Ada tuh. Kalo ga salah ayat tujuh belas, surat ke delapan!”
Isna : “Surat ke delapan apaan?”
Kak Imut : “Al-Anfal, Al-Anfal.”
Lalu bergegeslah masing-masingnya ngebuka Al-Qur’an buat nyari surat Al-Anfal dan nemuin ayat ke tujuh belas. Vicka yang pertama kali nemu, akhirnya dia diminta ngebacain arti suratnya keras-keras. Yang ini, lho…
Artinya : “Sebenarnya bukan kamu yang membunuh mereka itu, tetapi Allah, dan waktu kamu melempar itu sebenarnya bukan kamu yang melakukannya, tetapi Allah jualah. Tuhan berbuat demikian hendak menganugerahkan nikmat kemenangan yang gemilang kepada kaum mukmin. Sesungguhnya Allah itu Maha Mendengar dan Mengetahui.”
Hebat, ya? Gw ga nyangka, lho. Arti ayat itu bener-bener menunjukkan kalau Allah akan ngasih kemenangan buat orang-orang mukmin, atas orang-orang musyrik. Lalu gw jadi mikir, pantes aja para generasi muda di waktu itu sampe nyulik Soekarno dan Hatta dan maksa supaya tanggal 17 Agustus itu kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Mungkin ini sebabnya, kali ya? Wallahualam bi shawab.
Mungkin sebagian besar orang udah pada tau cerita ini. Gw aja yang ketinggalan informasi. He he he. Tapi tiba-tiba aja semua cewek di situ jadi ngerasain perasaan bangga jadi orang Indonesia, habis ngebaca ayat itu. Buat gw, itu jadi salah satu dari sedikit beberapa hal yang bisa bikin gw bangga sama negara gw sendiri. ^^ V
23 Comments »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI
Leave a Reply
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.









Yaaaaaaaaaa
AKu juga bangga jadi anak indonesia.
Meskipun belum banyak berprestasi…
Wah, blogna keren ya…
AKu pengen jua pang punya aplikasina yang imut2…
Fairuz belajar ndiri ato beli bukuna???
Comment by utheas— 24 July 2008 #
Wakakakakak…
Walau saia tidak bangga jadi anak Indonesia, saia bangga tanggalnya bagus begitu…
Comment by Kyu Renjo— 24 July 2008 #
waw, so Amazing…..
saya lahir tanggal 17 juga loh gyahahha
http://qie22.wordpress.com/
Comment by Qie— 24 July 2008 #
utheas
belajar sendiri, n banyak belajar dari Mr. Strepp (maksa diajarin lebih tepatnya, he he he)
Kyu Renjo
sepertinya saya sudah memperkirakan tanggapan seperti itu dari dirimu ^^ V
Qie
Haah? Lu lahir tanggal 17? Ha ha ha, durhaka banget gw jadi sepupu, yah…
Comment by Fairuz Azzahra— 24 July 2008 #
hahaha,,, cerita dugem bjurn d’buat..
tp,, ds bjur bangga lho teh??
kd nyangka!! haha
Comment by Arifa— 25 July 2008 #
Nyammmm…
Tapi sebenarnya kan
bangsapejuang Indonesia cuman manfaatin keadaan vacuum of power ya?Belanda diusir Jepang… Jepang kabur liat negerinya dibom Amrik… trus… ya gitu deh
~
http://www.strifeblog.com
Comment by Strife Leonhart— 25 July 2008 #
Hooo… Wow! setahu gw makhluk2 yg lahir tgl sekian ntu rada2 gimanaaaa…gtu…hwehehehe (maksudx apa yah?)
Comment by Schyzoers d'Schyzo— 25 July 2008 #
@Teteh Qatrunnada
Yaaah, saya memang seperti itu…
Cenayang nih ceritanya???
Saya tidak nasionalis, tidak juga anti-nasionalis, saya berkehendak suka-suka saya…
Alasan content baru ttg turis itu juga supaya menambah traffic saja. intinya: Keuntungan untuk diri sendiri…
@Mister Strife (Oh??? Teteh Qatrunnada manggilnya kok pake mister juga??? (Red: Mr.Strepp)
Itu karena bangsa Indonesia cerdik, mister… ^^
Comment by Kyu Renjo— 28 July 2008 #
ih beneran..?
gw baru tau lo..
duh,syukron ya pagi2 gw dapet ilmu yg bikin gw jg bangga jd anak Indonesia.. eh lebih tepatnya bersyukur..^^
Comment by Ri_dha— 1 August 2008 #
AssWrWb.,
Nimbrung boleh yah? Tepatnya mengenai tanggal 17 Agustus itu. Menarik juga topiknya. Ada lagi yang lebih menarik, barangkali mau dengar, sekalian meluruskan satu-dua hal yang rada simpang siur.
Mayoritas rakyat Indonesia pada saat itu (sebenarnya sampai sekarang juga masih – hehe), masih memegang erat agama dan adat. Bahkan yang mencampuradukannya juga banyak sekali. Walau pun begitu, mengenai hari baik dan hari buruk sendiri, masyarakat Indonesia masih sangat berpegang kepada ajaran adat (budaya) ketimbang ajaran agamanya (dalam hal ini Islam). Padahal di Islam sendiri ada ilmunya tersendiri mengenai hari baik dan hari buruk. Bahkan penjabarannya pun secara spesifik. tanggal ini baik untuk apa, tanggal itu baik untuk apa, dsb.
Uniknya, menurut kebanyakan pakem adat yang ada di Indonesia, tanggal 17 adalah tanggal yang sial. Tidak baik untuk melakukan ini-itu, apalagi untuk memproklamasikan sebuah negara. Buat orang Indonesia kebanyakan, memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17, kira-kira sama dengan bunuh diri.
Inilah salah satu sebab mengapa Bung Karno diculik. Kaum muda yang waktu itu menculik Bung Karno (dan keluarganya) plus Bung Hatta (dan beberapa orang lain), memaksa agar Bung Karno mau memproklamasikan kemerdekaan RI sehari lebih awal. Sedangkan pada berkali-kali rapat para pejuang, memang sudah ditentukan bahwa kemerdekaan Indonesia akan diproklamasikan pada tanggal 17 (bulan apa pun).
Karena tidak pernah mengikuti sidang, rapat, lobi dan sebagainya, kaum muda waktu itu berpendapat, bahwa tanggal 17 adalah pemberian Jepang. Sedangkan kaum pejuang yang senantiasa menyertai Bung Karno sangat mengetahui, bahwa Bung Karno-lah orang yang menentukan tanggal 17. Lantas apa pertimbangan Bung Karno?
Siapa yang mencermati kehidupan Bung Karno secara teliti, tentu akan mengetahui bahwa beliau sangat mendalami Islam. Itu diawali ketika di masa mudanya, beliau berkenalan dengan Haji Oemar Said Tjokroaminoto (biasa disebut HOS Cokroaminoto). Sejak itu Bung Karno sangat dekat dengan golongan cendekia Islam, baik yang orang indonesia mau pun dari negara-negara lain. Begitu banyak saksi menjabarkan, bagaimana Bung Karno selalu dikelilingi ahli-ahli agama Islam sepanjang hidupnya. Sedari muda, pada masa perjuangan, pada masa pengasingan, bahkan sampai beliau mengembuskan napas.
Sejak lama Bung Karno pun mencermati segala sesuatu berdasarkan pertimbangan banyak hal. Dan selalu, pertimbangan menurut al-Qur’an serta ajaran keluarga Rasulullah menjadi pertimbangan yang paling kuat. Contohnya ya itu tadi.. Bung Karno orang Jawa, tetapi mengesampingkan ajaran adat leluhurnya yang menyatakan bahwa tanggal 17 adalah tanggal sial.
Mengenai pemilihan tanggal 17 tersebut, Bung Karno sudah menentukan dan bersikeras bahwa kemerdekaan Indonesia harus pada tanggal 17 – bulan apa pun, tahun berapa pun, dan apa pun yang terjadi.
Bahkan ketika beliau diancam akan dibunuh oleh kaum muda yang menculiknya ke Rengasdengklok sekali pun, beliau bersikukuh bahwa kemerdekaan harus pada tanggal 17. Ini kutipan dari apa yang terjadi di Rengasdengklok:
“…Waktu suasana tenang kembali. Setelah Bung Karno duduk, dengan suara rendah ia mulai berbicara; “Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17.” Sukarni bertanya, “Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja (tanggal 15), atau tanggal 16 ?” Bung Karno menjawab, “Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Al-Qur’an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia.” -Lasmidjah Hardi (1984:61).
Nah… Bung Karno sendiri mendapatkan tanggal 17 tersebut bukan seketika, melainkan melalui proses. Beliau mendapatkannya melalui sebuah proses belajar yang amat sangat panjang, yaitu belajar agama Islam. Dan beliau pun memperolehnya melalui sebuah proses keyakinan yang juga panjang, yaitu meyakini ajaran Islam. Guru-guru Islamnya adalah orang-orang yang paling dominan dalam penentuan tanggal ini.
Dan memang benar, begitulah tadi di atas, bunyi ayat 17 pada Surat al-Anfaal.
Namun selain al-Qur’an sendiri, perincian mengenai tanggalnya telah dijabarkan oleh salah satu cucu Rasulullah Muhammad bin Abdullah SAWW, yaitu al-Imam Ja’far ash-Shaddiq a.s. (pendiri universitas pertama di dunia) pada kira-kira tahun 700an Masehi.
Di dalam pedoman penanggalan menurut Rasulullah SAWW itu, kira-kira beginilah sebagian bunyi mengenai tanggal 17: “Tanggal 17 adalah hari yang sangat baik untuk memulai pembangunan, negara, kemerdekaan, perencanaan-perencanaan….”
Nah… Begitulah
Mudah-mudahan menarik. Terima kasih telah memberikan saya tempat untuk berbagi.
-Arya
Comment by Arya— 4 August 2008 #
saya?
Nasionalis? gak! disuruh upacara bendera aja malah tidur di kelas, mending ngerjain tugas kimia. senasionalisnya gw paling2 ikutan lomba panjat bendera indonesia (?)
Anti-Nasionalis? gak juga tuh, emang sih gw pernah mikir kenapa dunia terbagi2 jadi banyak negara.. kenapa gak jadi satu aja, biar gak ada istilah kuliah ke luar negeri… kalo perlu hilangkan istilah ‘negara’ dari dunia (ini contoh ekstrim)
Ya eniwei, gw bangga
sekaligus malujuga jadi anak Indonesia… pikirin aja kenapa*dihajar massa*
Comment by strife leonhart— 4 August 2008 #
alasan bangga :
memiliki kesempatan belajar IT jauh lebih besar dibanding negara lain yang hukum hak ciptanya diatur sangat ketat… enak ooy
alasan malu :
malu jadi benalu, malu minta melulu
…
(apa lagi ya
Comment by strife leonhart— 4 August 2008 #
Arifa
rami punk, jd dibuat, he he he
Strife
yah, saya juga separo-separo, ga jelas
mau enaknya, ga mau ga enaknya
haghaghag…
Ri_dha
sama-sama ^^
Arya
Wah, makasih banyak juga ya Mas udah share ceritanya. Ngomong-ngomong, ga ada link-nya ya?
Comment by Fairuz Azzahra— 4 August 2008 #
Hmm… Untuk yg soal Rengasdengklok dan sebagainya, bisa dicari di Wikipedia & situs Setneg RI. Sementara untuk yang periwayatan penanggalan Islam menurut Rasulullah SAWW, sebenarnya banyak sekali sumbernya. Salah satunya di kitab panjang Bihar al-Anwar karya al-Allamah Muhammad Baqir al-Majlisi (1616-1698). Tapi sayangnya, kitab-kitab seperti itu termasuk sangat langka di Indonesia sini.
Mudah-mudahan ada yang mau menerjemahkannya ke Bahasa Indonesia, karena itu adalah salah satu bukti ketinggian ilmu-ilmu Islam. Di universitas-universitas Islam dan madrasah-madrasah terkemuka dunia, buku itu dianggap sebagai kitab agung.
al-Allamah al-Majlisi sendiri adalah salah seorang ulama tinggi yang luar biasa hebat. Ia lahir dari keluarga yang juga merupakan keluarga cendekia Islam secara turun temurun. Pada masanya, beliau begitu disegani dan dihormati, baik oleh kawan mau pun lawan. Bahkan saking hebatnya, beliau selalu menjadi rujukan tunggal bagi dua golongan Islam yaitu Sunni dan Syiah. Beliau juga dikenal sebagai salah satu ulama tinggi yang sangat produktif. Sepanjang hidupnya, beliau menulis lebih dari 100 kitab.
Nah… kitab Bihar al-Anwar tadi itu panjangnya 110 jilid, lho… Satu jilidnya, kira-kira setebal buku telepon Jakarta.
Jangankan untuk menulis kitab seperti itu, membacanya pun barangkali memerlukan waktu seumur hidup.
Luar biasa ya?
Comment by Arya— 6 August 2008 #
aku cinta produk Indonesia! pasang badge-nya atuh di blog masing-masing… gue punya nih. Unduh aja di sini
gue gak bermaksud nyebar-nyebar tautan loh… huehee…
Comment by halexblue— 6 August 2008 #
duh, kelupaan ngapus satu garing… tautannya jadi gak jalan, kelebihan satu garis miring. Apus sendiri ya. Garing paling kanan. sori, sori…
Comment by halexblue— 6 August 2008 #
Hidup itu adalah perbuatan, saudara2… (By siapa tuh, saya lupa…
)
Jadi, percuma saja tanggal ini itu, kalo tidak dibarengi perbuatan… Ya kan Mister Strife???
Jadi… Biasakanlah bolos saat upacara, manjat tiang, jangan seperti saya, hidup terlalu biasa…
Comment by Kyu Renjo— 7 August 2008 #
arya
Wah2, makasih banyak nih, jadi makin tau banyak hal. Blog Mas yang mana, ya ngomong2, mau berkunjung, nih…
halexblue
Tergantung, he he he. Kalo katanya pelajaran Pkn kemaren, slogan itu contoh nyata nasionalisme yang keliru. Hue heu heu… :-p
Kyu Renjo
Hidup manjat tiang! Lhoo…
Comment by Fairuz Azzahra— 8 August 2008 #
*lewat*
Comment by Strife Leonhart— 8 August 2008 #
Wah…
Saya pernah punya blog, tapi dah almarhum. Gak keurus soale. Hehehe… Maklumlah, waktu 24 jam sehari kadang masih serasa kurang.
Klu mo ngubrul2 or tanya2, bole email aja langsung. Mestinya sih emailnya kerekam di visitor’s list ya? ^_^
Comment by Arya— 9 August 2008 #
Akhi….
Ajari aku bagaimana berucap dengan tulus, “Aku bangga menjadi anak Indonesia”
Pengin banget. Seriuzzzz
Salam kenal!
Comment by dhianofie— 9 August 2008 #
Strife Leonhart
Lagi ga mood, tuh
Dueh, anak kos… home sick ya? He he he
Arya
Wah, sayang. Padahal kayaknya tulisan Mas bakal bagus tuh, detail ^^. He he he, sip lah, nanti kalo mau tanya2 lewat e-mail aja
dhianofie
Duh? Akhi?
Mas ngomong sama saya atau sama Mas Arya di atas, nih?
Comment by Fairuz Azzahra— 9 August 2008 #
“Arti ayat itu bener-bener menunjukkan kalau Allah akan ngasih kemenangan buat orang-orang mukmin, atas orang-orang musyrik”
Musyrik itu paan seh???
Sorry g bukan muslim, jadi g ga menang dunk???
menurut g smua hanya kebetulan saja….
Comment by YANU— 1 April 2009 #